Manajemen Kelas

Nama : Luthfia sarfina amalia 
Kelas : 4G PAI
nim : 12001272
Maksud dari Manajemen kelas suatu proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengawasan kegiatan pembelajaran guru dengan segenap penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Manajemen adalah rangkaian kegiatan atau tindakan yang dimaksud untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya pembelajaran. Manajemen kelas merupakan persyaratan penting yang menentukan terciptanya pembelajaran yang efektif. 
Penciptaan kelas yang nyaman merupakan kajian dari manajemen kelas, sebab manajemen kelas merupakan serangkaian perilaku guru dalam upayanya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan peserta  didik untuk belajar dengan baik. Keefektifan  manajemen  kelas  sangat  tergantung kepada bagaimana guru memahami berbagai aspek pelaksanaannya. Inovasi dalam bidang pendidikan terus digalakkan guna menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam bidang pendidikan.  Inovasi dalam bidang pendidikan tersebut seperti kurikulum, metode mengajar, media pembelajaran, administrasi pendidikan, dan strategi pembelajaran. Implikasi dari inovasi dalam bidang pendidikan adalah  bahwa  ukuran  keberhasilan  proses belajar mengajar guru di kelas mengalami perubahan, tuntutan  ketertiban  kelas juga menjadi berubah. 
Guru mengajar tanpa menyiapkan satuan pelajaran, tanpa media, tanpa variasi metode, keadaan kelas yang tenang tanpa aktivitas para siswa mengerjakan tugas atau melakukan kegiatan belajar demi tercapainya tujuan  belajar, bukanlah kelas yang baik, dan itu perlu dihindari. Adanya perubahan tuntutan kondisi / ketertiban kelas agar proses belajar lebih berkualitas, maka guru perlu mengetahui manajemen kelas dalam proses pembelajaran. Setiap proses pembelajaran dengan metode, media, pendekatan tertentu menuntut suasana kelas tertentu pula.
Pembelajaran yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh pembaharuan kurikulum, fasilitas yang tersedia, kepribadian guru yang simpatik, pembelajaran yang penuh kesan, wawasan pengetahuan guru yang luas tentang semua bidang, melainkan juga guru harus menguasai kiat manajemen kelas. Setiap  kegiatan  belajar mengajar mengisyaratkan tercapainya tujuan, baik tujuan instruksional maupun tujuan pengiring. Namun tidak dapat dipungkiri keadaan di kelas  sering kali tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Upaya guru menciptakan dan mempertahankan kondisi yang diharapkan akan efektif apabila:
diketahui secara tepat faktor-faktor yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses  belajar mengajar;diketahuinya masalah-masalah  yang  diperkirakan  dan  yang mungkin tumbuh yang dapat merusak iklim belajar mengajar; dan
dikuasai berbagai pendekatan dalam manajemen kelas dan diketahui pula kapan dan untuk masalah mana satu pendekatan digunakan (Entang dan Joni, 1983:7).
Pengajaran adalah serangkaian kegiatan yang bermaksud  memfasilitasi  peserta  didik mencapai tujuan pendidikan secara langsung. Manajemen  kelas  merupakan segenap upaya guru dalam mengelola kegiatan  pembelajaran  guna  mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Manajemen kelas menentukan keberhasilan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa. Sehingga nampak jelas bahwa peran guru dalam manajemen kelas sangat menentukan keefektifan dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru  dan  siswa. Manajemen kelas berasal dari dua kata yaitu manajemen  dan  kelas. Apakah yang dimaksud dengan manajemen? Manajemen berasal dari kata manage yang berarti mengurus, memimpin, mencapai,  dan  memerintah.
Manajemen berasal dari Bahasa Latin, yaitu manus yang berarti tangan, dan agere yang berarti melakukan (Usman, 2009:5). Dua kata tersebut digabung menjadi managere, yang berarti menangani, melakukan dengan tangan. Usman (2009:5) mengemukakan managere diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, dalam bentuk kata kerja to manage, kata benda management, dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. 
Manajemen menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008:909-910) adalah:
 (1) proses pemakaian sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan; dan 
(2) penggunaan sumber daya secara efektif untuk  mencapai  sasaran.
Stoner (1995) berpendapat bahwa manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan berbagai berbagai sumber daya organisasi lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang diinginkan.
Hasibuan (1990) menyatakan bahwa manajemen adalah ilmu dan  seni  mengatur  proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan Siagian (2002) mengemukakan bahwa manajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan orang lain. Hal senada dikemukakan oleh Williams (2006:4) yang menyatakan management involves making plans and decisions about the future needs of the business; management is about making cost-effective use of resources through efficient organization and control; and management is about getting the best out of people to achieve objectives.
Hal senada dikemukakan oleh Herujito (2006:2) yang berpendapat bahwa manajemen adalah pengelolaan suatu pekerjaan untuk memperoleh hasil dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan cara menggerakkan orang-orang lain untuk bekerja. Berdasarkan beberapa pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah proses  penataan dengan melibatkan segenap sumber daya yang potensial, baik yang  bersifat manusia dan nonmanusia, dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
Imron (2003:4-5) menegaskan beberapa unsur yang terdapat dalam pengertian manajemen, yaitu: adanya suatu proses,  hal  ini  menunjukkan  bahwa ada tahapan tertentu yang harus dilakukan jika seseorang melakukan kegiatan manajemen; adanya penataan, berarti makna  manajemen  sesungguhnya adalah penataan, pengelolaan, dan pengaturan terdapatnya sumber-sumber potensial yang harus dilibatkan, baik sumber manusia dan nonmanusia, namun lebih menekankan pelibatan sumber potensial yang bersifat manusia, sebab terlibat dan tertatanya sumber-sumber potensial yang bersifat manusiawi, akan dengan sendirinya menjadikan tertatanya sumber potensial yang bersifat nonmanusia adanya tujuan yang hendak tercapai, karena pelibatan sumber potensial yang bersifat manusia dan nonmanusia  tersebut  bukan  merupakan tujuan, melainkan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan dan misi tertentu dan pencapaian tujuan tersebut diupayakan agar secara efektif dan efisien.
Kelas adalah ruang tempat belajar di sekolah (Kamus Bahasa Indonesia, 2008:669). Ketika membahas kelas, maka seseorang lazim akan mempersepsikan bahwa  kelas  merupakan  sebuah ruang berdinding, di dalamnya ada meja, kursi, papan tulis, dan perabot lainnya yang digunakan guru dan siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran. Wiyani (2013:53) menyatakan bahwa kelas merupakan bangunan yang tidak bisa digerak- gerakkan atau dipindahkan. Pengertian tersebut merupakan pengertian sempit dari kelas. Sedangkan pengertian luas dari kelas adalah semua tempat yang dapat digunakan dan/atau diakses oleh guru dan siswa untuk melakukan pembelajaran yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Sehingga kelas memiliki cakupan yang  luas, di mana ada interaksi guru dan siswa terkait membahas ilmu pengetahuan, maka tempat tersebut dapat disebut dengan kelas. Seiring dengan perkembangan teknologi, wahana untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran pun semakin kompleks dan canggih. Pembelajaran tidak hanya dilakukan secara tatap muka, namun dapat dilakukan tanpa tatap muka, seperti pembelajaran dengan sistem e- learning.
Sementara itu Arikunto (1988) berpendapat bahwa  kelas adalah sekelompok peserta didik yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama. Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa jika ada sekelompok peserta didik yang pada  waktu  bersamaan  menerima pelajaran yang sama dari guru yang berbeda, jelas itu tidak dapat disebut kelas. Berdasarkan paparan tersebut diketahui bahwa kelas  merupakan  sekelompok  siswa yang diajar secara bersama-sama atau suatu lokasi di mana kelompok itu menjalankan aktivitas proses pembelajaran pada waktu dan tempat yang dikondisikan secara formal. Kelas adalah sekelompok siswa yang ada pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.
Nawawi yang mengartikan kelas sebagai suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah sebagai satu kesatuan diorganisasikan menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai tujuan (Rohmad, 2009:69). Sedangkan Wiyani (2013:52) mengartikan kelas sebagai unit kerja terkecil di sekolah yang digunakan sebagai tempat untuk kegiatan belajar-mengajar. Sebagai suatu unit kerja terkecil di sekolah, di dalam suatu kelas terdiri dari sekelompok peserta didik dan berbagai sarana prasarana belajar. Sekelompok peserta didik tersebut tentu tidaklah homogen, tetapi heterogen, mulai dari perbedaan jenis kelamin, tinggi badan, usia, tingkat intelegensi, bakat, minat, hingga perbedaan    tipe belajar.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat diketahui pada hakikatnya kelas adalah merupakan kumpulan individu yang memiliki karakteristik berbeda- beda dan merupakan wahana paling dominan bagi terselenggaranya proses pembelajaran bagi siswa. Kedudukan kelas yang  demikian  penting, mengisyaratkan bahwa agar proses pendidikan dan  pembelajaran  dapat berlangsung secara efektif dan efisien, maka dibutuhkan guru yang profesional dalam melakukan pengelolaan kelas melalui pendekatan manajemen kelas.
Agar kondisi kelas memberikan kontribusi yang positif bagi keefektifan proses pembelajaran, maka guru harus mampu menciptakan dan  merekayasa  kondisi  kelas yang dihadapinya dengan sedemikian rupa. Usaha ini akan efektif manakala guru memahami secara tepat faktor-faktor yang mendukung terciptanya kondisi belajar yang menguntungkan, seperti menginventarisasi masalah-masalah yang diperkirakan mungkin timbul sehingga dapat merusak iklim proses belajar mengajar, menguasai berbagai pendekatan manajemen kelas, mencari solusi dan alternatif yang terbaik bagi penyelesaian masalah yang dihadapinya saat berlangsungnya proses belajar mengajar, merencanakan apa yang seharusnya dilakukan dalam proses belajar mengajar.